2026-07-03
Seri Melasma Bagian 2 - Mengapa Melasma Sulit Diobati? (Penjelasan Berdasarkan Jurnal Penelitian)
Melasma bukan sekadar masalah pigmentasi, melainkan penyakit kompleks yang melibatkan perubahan seluruh lingkungan kulit, termasuk membran basal dan pembuluh darah, sehingga sulit diobati.

Bukan sekadar masalah melanin, melainkan perubahan pada seluruh lingkungan kulit
Saat melakukan konsultasi melasma di klinik kulit, ada pertanyaan yang sangat sering saya dengar.
‘Mengapa melasma sangat sulit dihilangkan?’
‘Mengapa melasma muncul lagi meskipun sudah dilaser?’
Kita sering kali menganggap melasma sekadar kondisi di mana pigmen kulit bertambah,
namun penelitian terbaru memandang melasma bukan sekadar penyakit pigmen biasa, melainkan kondisi di mana seluruh lingkungan kulit telah berubah.
Artinya, melasma bukan hanya tentang sel melanosit yang terlalu aktif, tetapi juga melibatkan:
Epidermis
Membran basal (basement membrane)
Dermis bagian atas
Pembuluh darah
Sel inflamasi
Fibroblas
Ini adalah penyakit kompleks yang melibatkan semua elemen tersebut.
Itulah sebabnya pengobatannya sulit, dan sering kali kambuh kembali meskipun sempat membaik.
Hari ini, kita akan merangkum alasan mengapa pengobatan melasma sangat sulit berdasarkan jurnal penelitian.
1. Melasma bukanlah penyakit yang hanya melibatkan pigmen epidermis
Umumnya, respons pengobatan penyakit pigmen bergantung pada di lapisan mana pigmen tersebut berada.
Pigmen yang terbatas pada epidermis biasanya memiliki respons pengobatan yang relatif baik,
tetapi melasma tidak sesederhana itu.
Pada kulit dengan melasma,

Peningkatan melanin di seluruh lapisan epidermis
Peningkatan melanosom yang lebih besar dan matang
Granula melanin di dermis bagian atas
Peningkatan melanofag di dalam dermis
Semuanya dapat diamati secara bersamaan.
Dengan kata lain, melasma bukanlah sekadar pigmen epidermal biasa,
melainkan lebih mirip penyakit yang disertai dengan perubahan pada epidermis dan dermis secara bersamaan.
Oleh karena itu, pendekatan untuk menghilangkannya sekaligus seperti menghilangkan noda hitam biasa memiliki keterbatasan.
2. Jika membran basal rusak, melasma akan menjadi lebih dalam dan bertahan lebih lama

Di antara epidermis dan dermis terdapat struktur yang disebut membran basal (basement membrane).
Membran basal ini bertindak sebagai batas kulit dan mengatur pergerakan melanin serta berbagai zat sinyal.
Namun, pada kulit dengan melasma, dilaporkan adanya perubahan seperti:
Peningkatan diskontinuitas membran basal
Penipisan lamina densa
Hilangnya anchoring fibril
Artinya, membran basal dalam keadaan rusak.
Jika hal ini terjadi, sinyal inflamasi dan pemicu melanin yang naik dari dermis akan lebih mudah tersalurkan ke epidermis, dan perubahan terkait melanin dapat bertahan lebih lama.
Kerusakan membran basal pada akhirnya menjadi salah satu alasan mengapa melasma menjadi lebih dalam, mudah kambuh, dan terasa lambat untuk disembuhkan.
3. Melasma bukan hanya penyakit sel melanosit
Dulu, kita memahami melasma sekadar sebagai ‘penyakit di mana sel melanosit bekerja terlalu keras’,
namun baru-baru ini, patofisiologi yang jauh lebih kompleks telah terungkap.
Pada kulit dengan melasma, berbagai sel di sekitar sel melanosit
bersama-sama merangsang produksi melanin.

Sel-sel utama yang terlibat antara lain:
Keratinosit (keratinocyte)
Fibroblas (fibroblast)
Sel mast (mast cell)
Sel endotel pembuluh darah (endothelial cell)
Ketika sel-sel ini terkena paparan sinar ultraviolet dan rangsangan inflamasi, mereka melepaskan berbagai faktor pertumbuhan dan sitokin, yang pada akhirnya membuat sel melanosit terus-menerus terstimulasi.
Dengan kata lain, melasma bukanlah penyakit yang diciptakan oleh sel melanosit sendirian, melainkan penyakit yang diciptakan bersama oleh lingkungan kulit di sekitarnya.
4. Sinar ultraviolet tidak hanya sekadar membuat melasma menjadi ‘gelap’
Faktor lingkungan terpenting dalam melasma tetaplah sinar ultraviolet.
Namun, peran sinar ultraviolet tidak hanya sebatas memproduksi melanin.
Menurut jurnal penelitian, sinar ultraviolet dapat secara bersamaan menyebabkan:
Peningkatan produksi melanin
Peningkatan stres oksidatif
Pemicu reaksi inflamasi
Kerusakan membran basal
Perubahan dermis bagian atas
Peningkatan sinyal terkait proliferasi pembuluh darah
Secara khusus,
UVB memberikan dampak besar pada epidermis dan membran basal,
UVA memengaruhi hingga ke dermis bagian atas,
dan cahaya tampak (visible light), terutama blue-violet light, juga dapat memicu pigmentasi pada orang dengan warna kulit yang lebih gelap.
Artinya, melasma bukan sekadar ‘kulit yang menghitam karena banyak terpapar sinar matahari’,
melainkan penyakit yang bertahan karena sinar ultraviolet mengubah struktur dan fungsi kulit secara keseluruhan.
5. Inflamasi dan stres oksidatif terus mempertahankan melasma
Melasma juga memiliki karakteristik sebagai penyakit pigmen inflamasi.
Faktor-faktor seperti sinar ultraviolet, gesekan, kosmetik yang mengiritasi, prosedur yang berlebihan, dan dermatitis kontak
dapat menciptakan peradangan mikro pada kulit,
dan peradangan ini kembali merangsang produksi melanin.
Selain itu, stres oksidatif (oxidative stress) memainkan peran penting dalam melasma.
Dalam jurnal penelitian, dilaporkan adanya:
Penurunan glutathione
Peningkatan malondialdehyde
Peningkatan nitric oxide
Ketidakseimbangan sistem antioksidan, dll.
Hal ini berarti bahwa kulit dengan melasma bukan sekadar kulit yang memiliki banyak pigmen,
melainkan lingkungan kulit yang berulang kali terpapar oleh peradangan dan rangsangan oksidatif.
Oleh karena itu, pengobatan melasma tidak boleh hanya berfokus pada menghilangkan pigmen,
tetapi harus mengarah pada mengurangi iritasi kulit serta menurunkan inflamasi dan stres oksidatif.
6. Penuaan fibroblas dapat memperpanjang kondisi melasma
Salah satu konsep penting yang baru-baru ini dilihat dalam patofisiologi melasma adalah
senescent fibroblast (fibroblas yang menua).
Fibroblas yang menua bukan sekadar sel yang fungsinya menurun,
tetapi justru dapat melepaskan berbagai faktor pemicu melanin.
Contohnya adalah zat-zat seperti:
SCF
HGF
bFGF
KGF
NGFβ
Faktor-faktor ini terus merangsang sel melanosit, menciptakan lingkungan yang mempertahankan melasma.
Artinya, melasma bukan hanya masalah pada epidermis,
melainkan struktur di mana lingkungan kulit yang menua di dermis bagian atas terus merangsang pigmen epidermis.
7. Sel mast dan pembuluh darah juga terlibat dalam melasma
Pada kulit dengan melasma, dilaporkan adanya peningkatan mast cell (sel mast),
dan kepadatan pembuluh darah yang lebih tinggi.
Sel mast dapat melepaskan zat-zat seperti:
histamine
tryptase
VEGF
Zat-zat ini masing-masing dapat terlibat dalam:
Peningkatan produksi melanin
Kerusakan membran basal
Proliferasi pembuluh darah
Perubahan struktur dermis
Kulit dengan banyak pembuluh darah bukan sekadar masalah kulit yang tampak kemerahan,
tetapi juga dapat terhubung dengan lingkungan yang merangsang sel melanosit.
Oleh karena itu, beberapa jenis melasma
harus dipahami sebagai bentuk yang tidak hanya memiliki pigmen, tetapi juga memiliki elemen vaskular dan inflamasi secara bersamaan.
8. Jika skin barrier melemah, melasma akan menjadi lebih sensitif
Ada juga laporan yang menyebutkan bahwa pemulihan skin barrier (sawar kulit) pada kulit dengan melasma bisa lebih lambat dibandingkan kulit normal.
Lapisan tanduk (stratum korneum) menjadi lebih tipis, pemulihan sawar kulit (barrier recovery) setelah iritasi menjadi lebih lambat,
dan kulit dapat bereaksi lebih sensitif terhadap rangsangan eksternal.
Pada kulit seperti ini,
Eksfoliasi yang berlebihan
Peeling yang terlalu sering
Laser yang kuat
Kebiasaan menggosok kulit
Kosmetik yang mengiritasi
Semuanya dapat menjadi faktor yang memperburuk keadaan.
Artinya, hal yang penting dalam pengobatan melasma bukanlah mengobatinya dengan keras tanpa pandang bulu,
melainkan merawatnya secara stabil sambil melindungi skin barrier.
9. Itulah sebabnya melasma sering kambuh
Alasan mengapa melasma mudah kambuh sangatlah jelas.
Melasma bukanlah penyakit yang selesai hanya dengan menghapus pigmen yang tersisa di kulit,
karena lingkungan yang memproduksi kembali pigmen tersebut masih tertinggal.
Dengan kata lain, pada kulit dengan melasma, dapat terjadi secara bersamaan:
Sensitivitas terhadap sinar ultraviolet
Reaksi inflamasi
Stres oksidatif
Kerusakan membran basal
Perubahan dermis bagian atas
Peningkatan pembuluh darah
Fibroblas yang menua
Aktivitas sel mast
Oleh karena itu, bahkan setelah pengobatan,
jika terkena pengaruh sinar matahari, panas, iritasi, perubahan hormon, dermatitis, atau kebiasaan gaya hidup,
melasma akan mudah muncul kembali.
Kesimpulan
Melasma bukan sekadar penyakit di mana melanin bertambah.
Pada kulit dengan melasma, hal-hal berikut ini muncul bersamaan:
Hiperaktivitas sel melanosit
Peningkatan reaksi terhadap sinar ultraviolet
Inflamasi
Stres oksidatif
Kerusakan membran basal
Perubahan pembuluh darah
Penuaan fibroblas
Kelainan skin barrier
Oleh karena itu, pengobatan melasma bukanlah sekadar perawatan untuk menghilangkan pigmen,
melainkan perawatan yang juga menangani lingkungan kulit itu sendiri yang terus memproduksi melanin.
Cuplikan Episode Selanjutnya
Pada artikel berikutnya,
kita akan merangkum bagaimana sebenarnya pendekatan pengobatan melasma harus dilakukan.
Bagaimana cara memblokir sinar ultraviolet
Apa peran obat oles
Dalam kasus apa Asam Traneksamat (Tranexamic Acid) dapat membantu
Di mana posisi Laser Toning dalam pengobatan
Mengapa perawatan skin barrier dan meminimalkan iritasi sangat penting
Semua ini akan dijelaskan berdasarkan jurnal penelitian.